Minggu, 09 Desember 2012

089114097 TUNALARAS



TUNA LARAS
A.  Apa sich Tunalaras itu?
Ternyata istilah Tunalaras ini masih asing terdengar oleh kebanyakan orang yang saya jumpai. Bermula diwaktu saya sedang asyik bermain game sambil chatting lalu iseng bertanya kepada teman saya tentang bagaimana menangani anak tuna laras. Ternyata kebanyakan dari mereka malah bertanya balik kepada saya tentang apa itu tunalaras.
Istilah Tunalaras sebenanya sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Nah bagi yang belum tahu saya kasih tahu deh apa itu “Tuna Laras”. Menurut ketentuan yang diterapkan UU Pokok Pendidikan No. 12 Tahun 1952, anak tuna laras adalah individu yang mempunyai tingkah laku menyimpang/berkelainan, melakukan pelanggaran terhadap peraturan dan norma-norma sosial dengan frekuensi yang cukup besar, tidak/kurang mempunyai toleransi terhadap kelompok dan orang lain, serta mudah terpengaruh oleh suasana, sehingga membuat kesulitan bagi diri sendiri maupun orang lain. Di lain pihak menurut T.Sutjihati Somantri (2007:139) “Anak tunalaras sering juga disebut anak tunasosial karena tingkah laku anak ini menunjukkan penentangan terhadap norma-norma sosial masyarakat yang berwujud seperti mencuri, mengganggu, dan menyakiti orang lain.”
Dalam Dokumen Kurikulum SLB bagian E Tahun 1997, yang disebut Tunalaras adalah :
*      Anak yang mengalami gangguan/hambatan emosi dari tingkah laku sehingga tidak/kurang menyesuaikan diri dengan baik, baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
http://1.bp.blogspot.com/-SLKYaiscj2k/UJ-Q6WFHvJI/AAAAAAAACwY/75wmxl9w3yU/s320/sma3.jpg
*      Anak yang mempunyai kebiasaaan melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat.
http://www.balikpapanpos.co.id/uploads/berita/dir07112012/img07112012829391.jpg
*      Anak yang melakukan kejahatan
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRAuDHtqJblf_4hyx3Nz_C5sgDWoUfzSERHMni_66wr7h8mX2Q&t=1&usg=__NVS6yIQeuHlv5-vRWFSBtYZjhKA=
Berangkat dari pemikiran ditas, seseorang yang diidentifikasi mengalami gangguan atau kelainan perilaku adalah individu yang :
v  Tidak mampu mendefinisikan secara tepat kesehatan mental dan perilaku yang normal
http://i.imgur.com/VThqK.jpg
v  Tidak mampu mengukur emosi dan perilakunya sendiri
v  Mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi sosialisasi (Hallahan & Kauffman, 1991)
http://2.bp.blogspot.com/-SZ7WIxzQF2s/TivEn09dg7I/AAAAAAAAAHQ/7pHQqbzChgA/s320/tunalaras.jpeg



B.     Ciri, Faktor Penyebab dan Penanganan.
Setelah kita mengetahui arti dari tunalaras, ada baiknya kita mengenal ciri-cirinya. Nah untuk hal ini secara singkat saya akan ceritakan berdasarkan pengalaman saya dilapangan sbb :
  Kalo dari segi fisik sebenernya gak ada bedanya dengan anak normal kebanyakan, namun beberapa ada juga yang mengalami cacat fisik disertai kenakalan mereka.
Kalo dari segi intelektual, anak tunalaras ini sangat sulit untuk berkonsentrasi didalam kelas dan sulit menyerap pelajaran atau lamban dalam menyerap setiap pelajaran yang diberikan oleh guru.
Kalo dari segi gangguan emosi yang terdapat pada anak tunalaras adalah adanya ketidakmampuan belajar yang tidak ada kaitannya dengan faktor kecerdasan, penginderaan atau pun kesehatan. Ketidakmampuan dalam menjalin hubungan dengan orang lain, mempunyai perasaan yang tertekan dan cendrung terus-menerus merasa tidak bahagia.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab ketunalarasan, berasal dari internal (kondisi fisik maupun psikis dan masalah perkembangan) dan eksternal (lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, teman) anak.
Kemudian untuk penanganannya, banyak hal yang bisa dilakukan untuk menangani mereka. Mulai dari dukungan atau support dari keluarga, teman dan sekolah sangatlah membantu anak-anak ini untuk dapat kembali hidup tanpa menyandang label atau gelar ‘anak nakal atau anak badung” di lingkungan tempat dimana ia tinggal. Salah satu penanganan yang saya lakukan adalah dengan menggunakan pendekatan personal. Mengapa menggunakan ini? Tadinya saya hanya tertarik kenapa mereka (anak tunalaras) ada di SLB Prayuwana Yogyakarta. Kemudian saya mencari sumber ternyata cara ini mampu untuk menggali lebih dalam perkembangan emosi anak. Dengan pendekatan personal kita dapat mengetahui emosi (perasaan) maupun jati diri anak sesungguhnya, meskipun kita bukan keluarga tapi yang namanya manusia itu makhluk sosial. Tidak bisa hidup sendiri dan butuh rekan. Melalui pendekatan ini saya mendapati banyak sekali informasi dalam diri anak-anak tunalaras, sehingga kita dapat mengarahkan anak dengan perlahan merubah perilaku-perilaku negative (memaki, memukul, menendang dll) menjadi lebih positif (tidak memukul, memaki, dll).

C.     Saran
“Mereka” atau anak tunalaras adalah anak, teman, kerabat dan sahabat kita dalam hidup. Bukan musuh dan bukan pula perusuh yang harus disingkirkan. Butuh dukungan dari semua pihak untuk dapat membantu mereka menjadi anak yang diterima oleh semua pihak. Orangtua, keluarga, teman, sahabat, tentangga, guru bahkan pemerintah pun harus turun tangan dalam membantu mereka. Keluarga dalam hal ini orang tua adalah guru utama dalam membentuk karakter anak, maka haruslah orangtua wajib memberikan pendampingan yang positif agar anak berkembang. Teman atau sahabat adalah tempat dimana mereka bermain dan berkembang bersama. Saling menghargai dan menghormati adalah kunci sehat untuk hidup. Guru adalah orangtua kedua selain orangtua yang bertujuan memberikan pengetahuan yang selayaknya mereka dapatkan, pentingnya pendampingan dan membentuk karakter adalah tugas guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Pemerintah, disini perlu saya sampaikan bahwa sangat ironis memang negar kita Indonesia yang tercinta ini, dimana sektor pembangunan yang melambung tinggi, gedung-gedung pencakar langit yang megah dan bernilai milayaran rupiah tidak cukup membantu mereka (anak tunalaras) dalam segala aspek termasuk pendidikan. Memalukan sekali, kata itu pantas disematkan bagi pemerintah kita. Bukan hanya pemerintah pusat namun pemerintah daerah kiranya harus lebarkan mata mereka demi kemajuan anak generasi kita.
D.    Sumber
ü  T, Sutjiati Somantri. 2006. Psikologi Anak LuarBiasa. Bandung: Reflika Aditama
ü  Rogers, Bill. 2004. Behaviour Recovery atau Pemulihan Prilaku (diterjemahkan oleh A. D Rahayu Ratnaningsih).Jakarta: Grasindo
ü  http://dieza-eza.blogspot.com/2011/01/anak-tunalaras.html
ü  Bahri Djamarah, Syaiful. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta
ü  Ivona, Indah. 2003. Pendidikan Budi Pekerti Untuk SD. Yogakarta : Kanisius
ü  Listyaningsih. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Terpadu Tipe Webbed Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V SD Laboratorium Universitas Negeri Surabaya. Jurnal Pendidikan Vol. 05 No. 06. Surabaya : Depdiknas


Di post tanggal 9 Des 2012. Pukul 15:30 oleh Sanderick Hasoloan (0889114097)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar