Kamis, 20 Desember 2012

tunanetra


DISINI, AKU MERASA ‘SAMA’ SEPERTI MEREKA YANG NORMAL
Tidak bisa melihat bukan berarti berhenti berkarya dan lantas menyurutkan semangat kehidupan, inilah salah satu prinsip yang dipegang orang-orang penyandang disabilitas, terkhusus kaum tunanetra. Seorang tunanetra yang mandiri adalah inspirasi hidup kita. Tunanetra sering kali dijadikan alasan untuk meminta belas kasihan. Kekurangan yang seringkali dijadikan alasan untuk tidak bekerja dan tidak berkarya. Boro-boro memberikan inspirasi hidup dan kontribusi kepada orang lain, untuk dirinya sendiri masih mengharapkan orang lain.
Kehadiran penyandang tunanetra dalam keluarga kita dipastikan tidak kita harapkan. Tentunya kita mengharapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa memohon keluarga kita dilahirkan normal sehat tidak kurang satu apapun. Namun apa boleh dikata kalau kita dikaruniai seorang keluarga penyandang cacat, tunanetra misalnya, satu-satunya jalan adalah bersabar dan tetap bersyukur atas karunia itu.
Mayoritas yang terjadi memiliki keluarga penyandang cacat adalah aib dalam satu keluarga sehingga mereka cenderung menyembunyikan bahkan menyia-nyiakan karena tidak berguna bagi keluarga itu. Mereka kebanyakan menganggap penyandang cacat ini bagi keluarga hanya menjadi beban tidak ada gunanya dan itu memang kenyataannya. Bahkan penyandang tunanetra ini pun saat dirumah tidak ada yang peduli, tidak ada yang mengajak bermain, bercanda dll, tetangga lewat pun tidak ada yang peduli di diamkan saja tidak di sapa. Mereka hanya termenung sendiri menunggui kegelapannya.
Ketika saya melakukan observasi ke Yaketunis, saya begitu takjub menyaksikan adik-adik usia SD bermain kejar-kejaran dan gendong-gendongan di koridor. Mereka buta tapi begitu leluasa bermain kejar-kejaran tanpa takut tersandung atau menabrak sesuatu. Hanya kita yang ketar-ketir khawatir melihat mereka berlarian kesana kemari, takut mereka terjatuh atau menabrak tembok. Dan keceriaan mereka sungguh membuktikan betapa rasa syukur dan ikhlas masih milik mereka atas keterbatasan yang mereka alami. Selain fasilitas pendidikan, Yaketunis juga memiliki asrama. Dalam keseharian, mereka tinggal di asrama Yaketunis dan mengikuti kegiatan pendidikannya di sekolah atau universitas masing-masing. Banyak dari mereka yang berasal dari beberapa kota di Jawa. Mereka tinggal di asrama yaketunis dan pulang ke kampung halaman kembali ke keluarga ketika libur panjang tiba. Jadi Yaketunis ini berbeda dengan panti asuhan untuk yatim piatu. kebanyakan dari mereka memiliki keluarga di tempat asalnya. Tempat teman-teman tunanetra ini menuntut ilmu pun bermacam-macam. yang SD dan SMP bersekolah di sekolah yang ada di kompleks yayasan. Sedangkan yang SMA sampai Universitas, mereka bersekolah di luar. Yang sudah kuliah, kabanyakan berkuliah di UIN Sunan Kalijaga, tapi ada juga yang kuliah di UGM. Jurusan yang mereka ambil berbeda-beda. Hanya kebanyakan di bidang pendidikan dan keagamaan. Teman-teman di Yaketunis dari awal sudah ditekankan untuk mandiri. Tidak bisa melihat bukan merupakan sebuah apalagi untuk terus bergantung pada orang lain. Mulai dari hal-hal kecil seperti mencuci baju dan keperluan pribadi lainnya mereka urus sendiri. Mereka juga menyapu dan membersihkan lingkungan mereka sendiri. Untuk berangkat ke sekolah atau kampus pun mereka lakukan sendiri, tidak diantar. Lalu gimana caranya mereka bisa sampai ke kampus atau sekolah mereka dari asrama Yaketunis? Mungkin kita bakal bertanya seperti itu. Sehari-hari mereka bersekolah atau kuliah memakai angkutan umum (bis). Lalu bagaimana bisa mereka tahu kalau yang datang adalah bis, bukan truk atau kendaraan lain? Bagaimana mereka tahu mana jalur bis yang sesuai dengan tujuan mereka? Bagaimana cara mereka naik bis? Bagaimana mereka tahu bahwa mereka sudah sampai tujuan? Dan sederet bagaimana-bagaimana yang lain yang membuat kita tercengang setelah mendengar jawabannya dari bibir mereka yang murah senyum. Coba saja teman-teman tanyakan pada mereka kalau kebetulan sedang berkunjung ke sana. Lebih lanjut tentang Yaketunis bisa ditanyakan juga di sana.
Suatu hari ketika saya melakukan observasi bersama teman-teman, saya berkesempatan untuk berkenalan dan berbincang-bincang dengan mereka. Ketika mereka menjawab pertanyaan dari saya mengenai cita-cita mereka, begitu takjub mendengar apa yang mereka cita-citakan dan keyakinan mereka untuk bisa menggapainya, membuat kita yang normal merasa malu. Betapa mulia cita-citanya dan betapa gigih mereka mengupayakannya. Kesulitan dan halangan yang mereka hadapi karena keterbatasan yang mereka miliki tidak membuat mereka mengeluh lalu menyerah, tetapi justru menjadi pengobar semangat untuk membuktikan bahwa walau tunanetra mereka bisa menggapai cita-cita mereka, tidak kalah dengan orang-orang yang normal penglihatannya. Sementara di sini kita masih sering mengeluh ketika menemui kesulitan yang sebenarnya sangat remeh. Sementara di sini kita mudah menyerah dan berbalik pergi ketika membentur tembok penghalang. Cita-cita mereka bermacam-macam, ada yang mau jadi dosen, guru, musisi, pemain tenis, dan sebagainya. Tapi satu semangat yang sama dari cita-cita mereka adalah bahwa mereka ingin bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi sesamanya, serta ingin menunjukkan kepada dunia bahwa keterbatasan penglihatan tak pernah bisa menghalangi mereka untuk berkarya dan berprestasi. mereka ingin menunjukkan bahwa seorang tunanetra bukanlah sebuah beban yang menyusahkan orang-orang, tapi seorang tunanetra justru mampu memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
Satu hal menarik yang kami temukan ketika mengobrol dengan mereka. Salah satu dari mereka meminta nomor handphone teman saya. Semula saya berpikir itu hanyalah gurauan. Gimana bisa make HP, sedangkan untuk mengoperasikannya saja harus menggunakan indera penglihatan. Tapi ternyata mereka memiliki HP dan mereka bisa mengoperasikannya dengan menggunakan software yang bisa menterjemahkan item-item dan tombol di HP dalam bentuk suara.
Allah memang Maha adil, semua orang diberi kelebihan potensi walaupun manusia menganggap bahwa banyak sekali kekurangan.  Semua manusia sudah dibekali potensi masing-masing. Jadi jangan sibuk mendramaritis kekurangan kita, tapi mari kita gali potensi kita,karena setiap manusia pasti diberi kelebihan masing-masing.
Yogyakarta, Desember 2012
Angela Dewa Nindra
089114087
DAFTAR PUSTAKA;
Novita, Tirta, dan Angela. 2012. Ketunanetraan. (makalah)
Mangunsong, Frieda. (2011). Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa. Jilid 1. LPSP3. Jakarta


1 komentar: